Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyambut baik kabar diterbitkannya izin Emergency Use Authorization (EUA) terhadap vaksin yang diproduksi perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca. AstraZeneca memang telah mengembangkan vaksin virus corona (Covid 19) dengan menggandeng peneliti dari Universitas Oxford. Dan kini, raksasa farmasi negeri britania raya itu telah mengantongi izin EUA dari The Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) Inggris.

"Kemarin kita menerima kabar bahwa Emergency Use of Authorization atau EUA untuk AstraZeneca telah diberikan oleh The Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) Inggris," ujar Retno, dalam keterangan pers di Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (31/12/2020). Perlu diketahui, Emergency Use Authorization (EUA) merupakan mekanisme untuk memfasilitasi ketersediaan dan penggunaan tindakan medis, termasuk pemakaian vaksin, selama berlangsungnya keadaan darurat kesehatan masyarakat, seperti pandemi Covid 19 yang terjadi saat ini. Melalui EUA, Administrasi Makanan dan Obat obatan atau Food and Drugs Administration (FDA) Amerika Serikat (AS) dapat mengizinkan penggunaan produk medis yang disetujui maupun tidak disetujui, tentunya dalam kondisi darurat untuk melakukan sejumlah langkah.

Mulai dari mendiagnosis, mengobati, mencegah penyakit serta menangani kondisi serius atau mengancam jiwa. FDA selama ini telah menjadi lembaga rujukan 'pengawasan produk makanan dan obat obatan yang akan diedarkan secara global', termasuk izin penggunaan darurat vaksin Covid 19. Menurut Retno, kabar pemberian EUA oleh MHRA ini tentunya menjadi hal yang positif bagi Indonesia.

Karena MHRA dianggap sebagai salah satu otoritas regulasi yang ketat (stringent regulatory authorities) yang tentunya dapat mempercepat perizinan vaksin ini oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), melalui mekanisme reliance. Terkait mekanisme reliance, selama ini mekanisme tersebut memang dimaksudkan untuk mempercepat ketersediaan dan akses obat yang diperlukan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. "Ini tentunya merupakan kabar yang baik bagi kita semua, karena MHRA merupakan salah satu dari enam stringent regulatory authorities yang memiliki mekanisme relience dengan BPOM. Melalui mekanisme reliance ini, proses penerbitan Emergency Use of Authorization atas vaksin AstraZeneca di Indonesia akan lebih mudah," tegas Retno.

Retno kemudian menyebut EUA yang dikeluarkan oleh MHRA, akan memudahkan proses perizinan EUA terkait vaksin ini dari pihak terkait di Indonesia. "Hasil Emergency Use of Authorization di Inggris ini dapat dijadikan basis dan review dikeluarkannya Emergency Use of Authorization di Indonesia," papar Retno. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda ini juga menyatakan, secara global, banyak negara termasuk Indonesia telah mendorong upaya percepatan keluarnya EUA ini.

"Sebagaimana dijelaskan Kepala BPOM (Penny Lukito) kemarin, upaya terkoordinasi dengan semua pihak dan lembaga terkait baik di Indonesia dan di luar negeri terus dilakukan untuk mempercepat Emergency Use of Authorization," tutur Retno. Kendati berburu dengan waktu dalam upaya pengadaan vaksin, dirinya menegaskan bahwa aspek utama dalam perizinan penggunaan vaksin Covid 19 tetap diperhatikan, yakni keamanan, kualitas hingga efektivitas vaksin itu dalam melawan virus tersebut. "Tentunya proses ini tidak akan pernah mengkompromikan aspek keamanan, efektivitas, dan kualitas vaksin," pungkas Retno.

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.